<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>KeuanganKeluarga.com &#187; menabung di bank</title>
	<atom:link href="http://keuangankeluarga.com/tag/menabung-di-bank/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://keuangankeluarga.com</link>
	<description></description>
	<lastBuildDate>Tue, 29 Jun 2010 07:22:37 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.8.6</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Mengajarkan Anak Memahami Nilai Uang (2)</title>
		<link>http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/mengajarkan-anak-memahami-nilai-uang-2/</link>
		<comments>http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/mengajarkan-anak-memahami-nilai-uang-2/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Mar 2007 00:01:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dea.haryono</dc:creator>
				<category><![CDATA[keuangan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[anggara belanja keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[cara menabung]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat uang]]></category>
		<category><![CDATA[menabung di bank]]></category>
		<category><![CDATA[perencanaan keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[uang saku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keuangankeluarga.com/uncategorized/mengajarkan-anak-memahami-nilai-uang-2/</guid>
		<description><![CDATA[Like father like son
Like mom like daughter
Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan jua 
Peribahasa ini tampaknya berlaku hampir di setiap aspek kehidupan, termasuk pengelolaan keuangan pribadi ataupun keluarga.
Pernahkan Anda menyadari bahwa pola pengeluaran, pembelanjaan, dan investasi yang Anda lakukan saat ini sedikit banyak dipengaruhi oleh pola perencanaan keuangan orang tua Anda.
Adalah tugas orang tua mengajarkan pada [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/mengajarkan-anak-memahami-nilai-uang/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengajarkan Anak Memahami Nilai Uang'>Mengajarkan Anak Memahami Nilai Uang</a></li>
<li><a href='http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/mengenalkan-konsep-uang-pada-anak/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengenalkan konsep uang pada anak'>Mengenalkan konsep uang pada anak</a></li>
<li><a href='http://keuangankeluarga.com/asuransi/mempersiapkan-biaya-pendidikan-anak-tabungan-atau-asuransi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mempersiapkan Biaya Pendidikan Anak, Tabungan atau Asuransi?'>Mempersiapkan Biaya Pendidikan Anak, Tabungan atau Asuransi?</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<blockquote><p><em>Like father like son<br />
Like mom like daughter<br />
Air cucuran atap jatuhnya ke pelimbahan jua </em></p></blockquote>
<p>Peribahasa ini tampaknya berlaku hampir di setiap aspek kehidupan, termasuk pengelolaan keuangan pribadi ataupun keluarga.</p>
<p>Pernahkan Anda menyadari bahwa pola pengeluaran, pembelanjaan, dan investasi yang Anda lakukan saat ini sedikit banyak dipengaruhi oleh pola perencanaan keuangan orang tua Anda.</p>
<p>Adalah tugas orang tua mengajarkan pada anak untuk memahami arti uang, anggaran belanja, investasi ataupun tabungan; konsep keuangan secara umum.</p>
<p>Apa yang bisa kita ajarkan pada anak? Definisi investasikah? Apa kita harus mengajarkan anak membuat neraca keuangan?<br />
<em>When the time comes, may be you should&#8230;</em> **grin**</p>
<p>Caranya sedehana.<br />
<strong>Ajak anak menyusun anggaran belanja keluarga.</strong><br />
Mengapa hal ini harus dilakukan? Agar anak dapat melihat pola belanja dan prioritas keuangan keluarga. Hal yang jadi pertimbangan, tentunya usia anak dan sampai sejauh mana anak perlu tahu rahasia dompet Anda:-)</p>
<p>Jalan yang paling mudah mengajarkan anak mengelola keuangan adalah dengan memberikan uang saku. Rentang dan besarannya tentunya disesuaikan dengan usia dan kebutuhan anak. Tentunya uang saku yang berikan harus cukup memenuhi kebutuhan anak dalam rentang waktu yang telah disepakati; harian, mingguan, ataupun bulanan.<br />
<em>(note: saya mulai diberi uang saku mingguan oleh orang tua sejak kelas 5SD)</em></p>
<p>Apa saja yang dapat Anda ajarkan melalui pemberian uang saku ini:<br />
- setiap usaha baik akan mendapatkan reward<br />
- dibutuhkan anggaran untuk mengatur pengeluaran<br />
- ada resiko/konsekuensi yang diterima sebagai akibat dari keputusan-keputusan yang mereka ambil</p>
<p>Tidak ada salahnya dengan memberi reward berupa uang jajan atau barang, jika anak telah melakukan pekerjaannya dengan baik. Dari sini anak belajar bahwa diperlukan kerja untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya. Tidak ada kata terlalu dini untuk mengajarkan anak bekerja keras kan?</p>
<p>Ambil contoh untuk anak usia balita, jika mereka berhasil makan tanpa tercecer, kita dapat memberikan reward berupa uang receh untuk dimasukkan ke dalam celengan ayamnya.<br />
Atau untuk kakak yang lebih besar. Jika mereka membantu Anda mengerjakan pekerjaan rumah yang menjadi tugasnya (mencuci piring) tanpa perlu diberi komando selama seminggu, tidak ada salahnya kalau Anda meluluskan permintaannya membeli vcd penyanyi favoritnya.</p>
<p>Selanjutnya dengan memberikan uang saku, kita dapat mengajarkan anak menyusun anggarannya 1minggu atau 1bulan ke depan. Berapa banyak yang dihabiskan untuk ongkos ke sekolah. Seberapa besar yang dapat mereka habiskan untuk jajan.</p>
<p>Dari sini, merekapun belajar akan konsekuensi dari setiap keputusan mereka. Jika mereka menghabiskan seluruh uang saku yang Anda berikan, tentunya anak Anda tidak bisa membeli komik lebih banyak dari jatah yang Anda berikan untuknya bulan ini.</p>
<p>Mengenalkan pengelolaan keuangan pada anak tidaklah lengkap, jika kita hanya menekankan pada <strong>pemasukan</strong> dan <strong>perencanaan/anggaran</strong>. Hal lain yang sama pentingnya adalah mengenalkan konsep <strong>tabungan</strong>.</p>
<p>Banyak anak yang tidak menangkap keterkaitan dari tiga hal tersebut. Tugas orang tualah untuk mengajarkan anak bagaimana memperlakukan uang untuk memenuhi kebutuhan harian, tabungan, dan investasi. Memberikan uang saku pada anak merupakan cara konstruktif mengenalkan ketiga konsep di atas.</p>
<p>Mengajarkan anak menyisihkan sedikit uang sakunya, secara sadar Anda telah mengajarkan pada mereka konsep tabungan dan investasi. Sebagai contoh (yang sedang saya lakukan), saat ini putri kecil saya (2,5tahun) sedang menunggu tabungan penuh sehingga dapat membeli sepeda yang diinginkannya.</p>
<p>Apa tidak terlalu kecil? Entahlah:-)<br />
Tapi kami berharap dengan mengajarkannya menabung untuk mendapatkan sesuatu, anak kami belajar bahwa untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkan ada prosesnya; mengumpulkan uang, menunggu, dan menahan keinginan impulsif untuk sesegera mungkin memenuhi keinginannya.</p>
<p>Untuk anak yang lebih besar, tentunya bukan sekedar proses memasukkan uang ke dalam tabungan yang diperkenalkan. Harus lebih dari itu, misalkan anak harus dapat menahan diri untuk tidak jajan sebanyak biasa, sehingga uang sakunya dapat disisihkan untuk membeli sesuatu yang diinginkannya, baik itu komik kesukaannya atau barang-barang konsumtif yang lebih mahal.</p>
<p>Secara tidak sadar, anak juga belajar mengenai prioritas keuangan. Setelah kebutuhan hariannya terpenuhi, anak baru dapat menyisihkan uang sakunya untuk hal-hal lain yang tidak cukup penting.</p>
<p>Banyak cara mengajarkan anak mengenai konsep keuangan. Ini hanya salah satu cara, mungkin cara Anda sedikit berbeda. Jadi, mulai kenalkan konsep keuangan keluarga pada anak sekarang juga!</p>
<p>Happy Parenting:-)</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/mengajarkan-anak-memahami-nilai-uang/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengajarkan Anak Memahami Nilai Uang'>Mengajarkan Anak Memahami Nilai Uang</a></li>
<li><a href='http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/mengenalkan-konsep-uang-pada-anak/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengenalkan konsep uang pada anak'>Mengenalkan konsep uang pada anak</a></li>
<li><a href='http://keuangankeluarga.com/asuransi/mempersiapkan-biaya-pendidikan-anak-tabungan-atau-asuransi/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mempersiapkan Biaya Pendidikan Anak, Tabungan atau Asuransi?'>Mempersiapkan Biaya Pendidikan Anak, Tabungan atau Asuransi?</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/mengajarkan-anak-memahami-nilai-uang-2/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Mengajarkan Anak Memahami Nilai Uang</title>
		<link>http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/mengajarkan-anak-memahami-nilai-uang/</link>
		<comments>http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/mengajarkan-anak-memahami-nilai-uang/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 28 Feb 2007 15:55:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dini.indah</dc:creator>
				<category><![CDATA[keuangan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[cara menabung]]></category>
		<category><![CDATA[manfaat uang]]></category>
		<category><![CDATA[menabung di bank]]></category>
		<category><![CDATA[uang saku]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keuangankeluarga.com/uncategorized/mengajarkan-anak-memahami-nilai-uang/</guid>
		<description><![CDATA[“Aduh, kecil-kecil sudah tahu uang…” terkadang pendapat itu sering kita dengar jika ada anak yang sudah tahu dengan uang berwarna apa ia bisa membeli sesuatu. Entah mainan atau makanan. Komentarnya terdengar agak miring, mengingat tidak pada tempatnya seorang anak kecil pandai ‘jajan’. Padahal, ungkapan itu bisa saja bernilai positif jika kita bisa membimbing anak-anak kita [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/mengajarkan-anak-memahami-nilai-uang-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengajarkan Anak Memahami Nilai Uang (2)'>Mengajarkan Anak Memahami Nilai Uang (2)</a></li>
<li><a href='http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/mengenalkan-konsep-uang-pada-anak/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengenalkan konsep uang pada anak'>Mengenalkan konsep uang pada anak</a></li>
<li><a href='http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/tips-menabung/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tips Menabung'>Tips Menabung</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="piggy bank" src="http://i271.photobucket.com/albums/jj124/tokodea/keuangan/piggy_bank02.jpg" alt="" width="240" height="186" />“Aduh, kecil-kecil sudah tahu uang…” terkadang pendapat itu sering kita dengar jika ada anak yang sudah tahu dengan uang berwarna apa ia bisa membeli sesuatu. Entah mainan atau makanan. Komentarnya terdengar agak miring, mengingat tidak pada tempatnya seorang anak kecil pandai ‘jajan’. Padahal, ungkapan itu bisa saja bernilai positif jika kita bisa membimbing anak-anak kita untuk lebih bisa memahami bagaimana membelanjakan uang dengan cara yang bijak dan pandai menyimpannya. Berikut adalah beberapa tips bagaimana membuat anak memperlakukan uang dengan cara bijak:</p>
<ol>
<li>Sediakanlah celengan dengan bentuk yang unik. Perkenalkanlah aktifitas memasukkan uang ke dalam celengan sebagai kegiatan yang menyenangkan. Pada akhirnya nanti anda tidak bisa menaruh uang receh di sembarang tempat, karena pasti langsung raib dimasukkan ke dalam celengan oleh si kecil. Menabung menyenangkan!</li>
<li>Ajak si kecil berbelanja. Biarkan mereka melihat cara kita berbelanja dengan disiplin pada catatan. Nantinya mereka akan mengerti, bahwa dengan berpegangan pada catatan, kita belajar untuk tidak ‘lapar mata’.</li>
<li>Perkenalkan suasana bank. Ajak mereka menabung di bank, sehingga mereka tahu, bahwa tempat menabung tidak hanya di celengan. Bahkan dengan suasana bank yang relatif asing tapi nyaman, mereka akan merasakan suasana baru yang menyenangkan saat menyimpan uang.</li>
<li>Saat anak menginginkan suatu mainan, buatlah mereka berfikir bahwa mereka harus mengumpulkan uang. Berilah mereka uang jajan, dan ajak mereka membuat suatu pilihan, apakah akan memuaskan nafsu sesaat dengan jajan, atau mau mengorbankan kesenangan sesaat itu dengan menabung, demi dapat membeli mainan.</li>
</ol>
<p>Pada akhirnya, semua berpulang kepada kita sebagai orangtua, apakah kita mau memanjakan anak kita dengan segala kemudahan hidup, atau mau sedikit menahan diri demi menjadikan anak kita bijak memandang hidup.</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/mengajarkan-anak-memahami-nilai-uang-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengajarkan Anak Memahami Nilai Uang (2)'>Mengajarkan Anak Memahami Nilai Uang (2)</a></li>
<li><a href='http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/mengenalkan-konsep-uang-pada-anak/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengenalkan konsep uang pada anak'>Mengenalkan konsep uang pada anak</a></li>
<li><a href='http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/tips-menabung/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tips Menabung'>Tips Menabung</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/mengajarkan-anak-memahami-nilai-uang/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pengurangan Jaminan Atas Dana Masyarakat Oleh Pemerintah</title>
		<link>http://keuangankeluarga.com/info-keuangan/pengurangan-jaminan-atas-dana-masyarakat-oleh-pemeritah/</link>
		<comments>http://keuangankeluarga.com/info-keuangan/pengurangan-jaminan-atas-dana-masyarakat-oleh-pemeritah/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 13 Feb 2007 02:21:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dini.indah</dc:creator>
				<category><![CDATA[info keuangan]]></category>
		<category><![CDATA[menabung di bank]]></category>
		<category><![CDATA[perbankan Indonesia]]></category>
		<category><![CDATA[regulasi pemerintah]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keuangankeluarga.com/uncategorized/pengurangan-jaminan-atas-dana-masyarakat-oleh-pemeritah/</guid>
		<description><![CDATA[Mungkin anda ada yang kurang memperhatikan pemberitahuan pemerintah, bahwa mulai tanggal 22 Maret ini Pemerintah akan mengurangi jaminan atas dana masyarakat di bank sampai maksimal Rp100juta per rekening per bank. Artinya, jika terjadi sesuatu dengan bank yang bersangkutan, maka anda yang punya uang di atas Rp100juta harus gigit jari, karena uang anda yang dijamin aman [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://keuangankeluarga.com/investasi/bapepam-bei-tolak-pajak-final-reksa-dana/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bapepam &amp; BEI Tolak Pajak Final Reksa Dana'>Bapepam &amp; BEI Tolak Pajak Final Reksa Dana</a></li>
<li><a href='http://keuangankeluarga.com/investasi/reksa-dana-kena-pajak-final/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Reksa Dana Kena Pajak Final'>Reksa Dana Kena Pajak Final</a></li>
<li><a href='http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/siapkan-dana-untuk-membeli-rumah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Siapkan Dana untuk Membeli Rumah'>Siapkan Dana untuk Membeli Rumah</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Mungkin anda ada yang kurang memperhatikan pemberitahuan pemerintah, bahwa mulai tanggal 22 Maret ini Pemerintah akan mengurangi jaminan atas dana masyarakat di bank sampai maksimal Rp100juta per rekening per bank. Artinya, jika terjadi sesuatu dengan bank yang bersangkutan, maka anda yang punya uang di atas Rp100juta harus gigit jari, karena uang anda yang dijamin aman hanya Rp100juta.</p>
<p>Kenapa ada regulasi ini?<br />
Menilik sejarah perbankan di Indonesia dan krisis moneter yang memukul bangsa ini, memang perlu aturan ketat sehingga bisnis berkembang dengan sehat. Awalnya, bisnis perbankan tumbuh sangat subur dengan aturan yang tidak terlalu ketat. Bank-bank didirikan pengusaha dalam rangka menghimpun modal untuk ekspansi bisnisnya. Lalu datanglah krisis ekonomi, dimana bisnis dalam kondisi koma. masyarakat panik, sehingga beramai-ramai menarik uangnya. padahal, operasional bank sangat tergantung dari besarnya dana yang terhimpun di bank tersebut, sehingga dengan adanya rush (menarik uang nasabah beramai-ramai), bank seperti orang kekurangan darah. Maka untuk menyelamatkan bank, pemerintah membentuk BPPN (Badan Penyehatan Perbankan Nasional), dimana bank-bank yang sakit &#8216;direhabilitasi&#8217;. ada yang dilikuidasi, ada yang diberi pinjaman ada yang diakuisisi (digabung).</p>
<p>Nah, masalahnya masih saja ada pengusaha yang nakal. Kalau nakalnya kayak anak balita ya&#8230;nggemesin. Lha kalo nakalnya kayak preman kampung? ih, nyebelin banget!</p>
<p>Enaknya dibasmi aja kali ya! Lha wong uang rakyat yang dipinjam dari pemerintah ternyata dipakai lagi untuk modal usahanya! Kan semprul itu!</p>
<p>Jadi ternyata, akhirnya tetap saja mereka, para pengusaha, itu tidak bisa mengembalikan uang yang sudah dipinjamkan. Padahal, tadinya, niat pemerintah dengan memberikan pinjaman adalah agar uang masyarakat tetap aman di bank, sehingga tingkat kepercayaan masyarakat kepada pemerintah naik lagi. Uang yang tersimpan di bank dapat dipakai untuk pembangunan bangsa.</p>
<p>Maka, terjadilah tragedi tidak berkesudahan di negara kita tercinta ini. Yang miskin, makin banyak, yang bodoh karena tidak bisa sekolah juga makin banyak. Kriminalitas merajalela, karena orang makin buntu otaknya, bagaimana cari uang yang halal. Padahal, kalau kata saya, cari uang haram juga susah lho. Malah lebih sulit cari uang haram daripada cari uang halal. Coba, jadi maling, jambret, atau bandar ganja. resikonya paling ringan ketangkep polisi. Paling apes? Yaa&#8230;.mati digebukin atau didor!</p>
<p>Oke, kembali ke topik semula&#8230;.</p>
<p>Tentunya sulit buat pemerintah menanggung beban sedemikian beratnya. Lagipun, kita sudah terlalu lama hidup dengan banyak bergantung sama pemerintah, sampai lupa bagaimana menjalani hidup &#8217;sehat&#8217;. Sehat dalam artian punya mental yang sehat, yang mandiri, dan siap berkompetisi dengan cara yang fair juga. Maka menurut saya, dengan adanya &#8220;Regulasi Maret 2007&#8243; ini, pihak perbankan akan bersaing secara sehat untuk menjaring banyak nasabah, dimana nasabah akan memilih, mana bank yang bisa dipercaya, mana bank yang tidak bisa dipercaya, dengan sedikit campur tangan dari pemerintah. Ini pun juga berlaku di bank-bank BUMN. maka, tidak ada lagi istilah anak tiri atau anak emas. semua diperlakukan sama oleh pemerintah.</p>
<p>Dengan nominal yang hanya 100juta itu, lalu bagaimana bank (dalam hal ini Bank Indonesia) dapat memberikan iming-iming bunga yang besar? Yang dijamin aja cuma 100 juta. Maka memang yang terjadi dari tahun 2006 adalah penurunan tingkat suku bunga (BI rate) secara perlahan-lahan. Sisi positifnya adalah diharapkan makin banyak masyarakat yang mudah pinjam uang di bank, karena bunga pinjaman juga ikut turun. Roda ekonomi akan berjalan lagi seperti sebelum krisis.</p>
<p>Lalu, apa untungnya dong menabung di bank? Ya jelas masih untung! Coba kalau uang anda ditaruh di bawah kasur atau di celengan&#8230;.eh, kok pas sialnya ada banjir mendatangi di rumah anda. Yaaa&#8230;.silakan manyun!</p>
<p>Kita tetap butuh instrumen bank karena keamanannya, bukan karena bunganya. Apalagi kalau lihat biaya administrasinya yang menggerogoti uang kita yang nggak seberapa.. Kita butuh meletakkan uang kita di bank karena likuiditasnya, mudah pencairannya. Maka, paradigma mencari keuntungan dengan menabung di bank sepertinya harus diubah. Kecuali kalau anda mengharapkan dapat undian mobil atau rumah dari bank. Hanya, siap-siaplah kecewa, karena hadiah yang tersedia tidak sebanyak nasabah yang terdaftar di bank tersebut.</p>
<p>Oke, selamat mencari alternatif lain untuk menyimpan uang!</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://keuangankeluarga.com/investasi/bapepam-bei-tolak-pajak-final-reksa-dana/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Bapepam &amp; BEI Tolak Pajak Final Reksa Dana'>Bapepam &amp; BEI Tolak Pajak Final Reksa Dana</a></li>
<li><a href='http://keuangankeluarga.com/investasi/reksa-dana-kena-pajak-final/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Reksa Dana Kena Pajak Final'>Reksa Dana Kena Pajak Final</a></li>
<li><a href='http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/siapkan-dana-untuk-membeli-rumah/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Siapkan Dana untuk Membeli Rumah'>Siapkan Dana untuk Membeli Rumah</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keuangankeluarga.com/info-keuangan/pengurangan-jaminan-atas-dana-masyarakat-oleh-pemeritah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tips Menabung</title>
		<link>http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/tips-menabung/</link>
		<comments>http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/tips-menabung/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 28 Jan 2007 07:46:00 +0000</pubDate>
		<dc:creator>dini.indah</dc:creator>
				<category><![CDATA[keuangan keluarga]]></category>
		<category><![CDATA[cara menabung]]></category>
		<category><![CDATA[menabung di bank]]></category>
		<category><![CDATA[tabungan]]></category>
		<category><![CDATA[tips menabung]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://keuangankeluarga.com/uncategorized/saya-tidak-dapat-menabung-sekarang/</guid>
		<description><![CDATA[Menabung. Adalah sebuah kata yang selalu kita dengar mulai kita masuk TK sampai kita punya anak di TK. Mungkin saat kita kecil, orangtua kita selalu mengingatkan bahwa dengan menabung kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan.
Instrumennya tentu berkembang sesuai usia kita. Saya jadi ingat waktu kecil dulu punya celengan ayam yang dari gerabah. Lalu waktu [...]


Related posts:<ol><li><a href='http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/saya-tidak-dapat-menabung-sekarang-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: SAYA TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG'>SAYA TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG</a></li>
<li><a href='http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/mengajarkan-anak-memahami-nilai-uang/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengajarkan Anak Memahami Nilai Uang'>Mengajarkan Anak Memahami Nilai Uang</a></li>
<li><a href='http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/tips-hemat-bbm/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tips Hemat BBM'>Tips Hemat BBM</a></li>
</ol>]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" title="piggy bank" src="http://i271.photobucket.com/albums/jj124/tokodea/keuangan/piggy_bank.jpg" alt="" width="180" height="180" />Menabung. Adalah sebuah kata yang selalu kita dengar mulai kita masuk TK sampai kita punya anak di TK. Mungkin saat kita kecil, orangtua kita selalu mengingatkan bahwa dengan menabung kita bisa mendapatkan apa yang kita inginkan.</p>
<p>Instrumennya tentu berkembang sesuai usia kita. Saya jadi ingat waktu kecil dulu punya celengan ayam yang dari gerabah. Lalu waktu saya SMP, saya mulai memberanikan diri masuk ke bank untuk mendaftar jadi nasabahnya karena iming-iming hadiah 1 milyar.<br />
Tentu bukan jumlah yang kecil, sehingga saya yang waktu itu tidak mengerti gunanya kartu pelajar nekad tanya ke customer service untuk apply. Sayangnya&#8230; ditolak mentah-mentah karena yang saya punya cuma buku penghubung orangtua-guru!<br />
Tapi tentunya sekarang saya sudah punya rekening di bank. Hanya yang saya belum punya&#8230; hadiah 1 milyarnya! <img src='http://keuangankeluarga.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':-)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Alasan utama kenapa kita harus menabung adalah karena kita masih hidup di dunia. Coba kalau sudah mati, apa kita masih perlu uang? Cuma tuyul yang mata duitan. Setan gentayangan juga nggak doyan uang.</p>
<p>Manusia tentu mengalami beberapa fase dalam kehidupannya. Fase saat tumbuh kembang, dewasa, tua, lalu mati. Saat kita beranjak dewasa, kita ingin punya uang untuk sekolah, beli sandang, pangan, rumah, mobil, perhiasan&#8230;semua untuk kenyamanan hidup. Harta dapat menghampiri selama badan masih sehat wal afiat. Saat kita tua, atau malah terkena kecelakaan dan penyakit, bukan uang yang mengejar kita, tapi malah kita yang mengejar uang. Kata orang, hidup seperti roda berputar. Kadang di atas, kadang di bawah. Kita selalu merasa lebih siap untuk di atas ketimbang ada di bawah. Padahal hidup selalu menawarkan resiko sukses-gagal yang sama besarnya.</p>
<p>Berani sukses, berarti berani gagal. Lalu, bagaimana kita bersiap mengalami kegagalan atau krisis finansial di masa makmur? Tentunya dengan menyisihkan sebagian penghasilan untuk kita tabung. Hanya perlu diingat,ada beberapa strategi yang harus disusun agar sasaran kita menabung dapat tercapai. Di bawah ini ada beberapa tips menabung yang dapat<br />
anda praktekkan:</p>
<p>1. Susunlah rencana anda<br />
Coba anda fikirkan, mau punya apa anda 3 tahun, 5 tahun, bahkan 20 tahun lagi? Apa yang ingin anda capai? Tulis dalam agenda anda</p>
<p>2. Sesuaikan penghasilan anda<br />
Mimpi boleh tinggi, hanya perlu realistis. Sulit mewujudkan mimpi anda punya pesawat jet pribadi kalau income anda cuma 1 juta rupiah sebulan. Mungkin ideal jika anda bisa menyisihkan 50% penghasilan anda untuk menabung. kalau tak bisa, 5% pun jadi. Dan disiplinlah dengan mimpi anda</p>
<p>3. Bayarlah diri anda sebelum membayar orang lain<br />
Anda seorang pribadi yang layak dibayar. Maka saat anda gajian, anda harus membayar diri anda sendiri sebelum uang anda lari ke kantong pengusaha supermarket, atau pengusaha butik. Masukkan uang itu ke rekening anda.</p>
<p>4. Pilih instrumen menabung sesuai target yang anda ingin capai, dan resiko yang sanggup anda tanggung<br />
Saat ini instrumen menabung sudah sedemikian beragamnya. Ada yang di tabungan, deposito, emas,properti (tanah dan gedung), reksadana, dll. Dengan memecah uang anda, berarti anda juga membagi resiko dalam berinvestasi, sehingga tujuan anda dapat cepat tercapai.</p>
<p>5. Jangan lupa untuk berjaga-jaga dengan asuransi<br />
Saat kita sakit atau tua dan tak berpenghasilan, instrumen yang ini akan sangat berguna.</p>
<p>6. Yang terpenting…mulai dari sekarang!<br />
Makin cepat anda mulai, makin besar hasil yang anda dapat di kemudian hari. Percayalah, karena ini sudah hukum alam berinvestasi</p>
<p>Oke&#8230;.selamat menabung!</p>


<p>Related posts:<ol><li><a href='http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/saya-tidak-dapat-menabung-sekarang-2/' rel='bookmark' title='Permanent Link: SAYA TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG'>SAYA TIDAK DAPAT MENABUNG SEKARANG</a></li>
<li><a href='http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/mengajarkan-anak-memahami-nilai-uang/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Mengajarkan Anak Memahami Nilai Uang'>Mengajarkan Anak Memahami Nilai Uang</a></li>
<li><a href='http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/tips-hemat-bbm/' rel='bookmark' title='Permanent Link: Tips Hemat BBM'>Tips Hemat BBM</a></li>
</ol></p>]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://keuangankeluarga.com/keuangan-keluarga/tips-menabung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
