Posted on 17th February 2008No Responses
BENTUK INVESTASI ALA IBU RUMAH TANGGA

Beberapa hari ini saya melihat iklan suplemen khusus wanita yang mengusik pikiran saya. Di iklan itu, digambarkan seorang wanita yang ‘hebat’ memiliki banyak peran. Sebagai ibu, guru sang anak, menteri keuangan di rumah, bagian pembelanjaan, koki dan juga dia masih bisa berolahraga. Yah…pokoknya ‘banyak tangan banyak kaki’ deh. Yang jelas, peran pria memang ditakdirkan tidak sebanyak wanita (para wanita, mari kita geer…).

Maaf ya, bapak-bapak… tulisan saya sama sekali tidak ingin membahas keunggulan kaum saya… jadi tolong jangan sewot dulu…

Kembali ke topik semula… sebenarnya saya merasa tuntutan keluarga terhadap wanita itu terlalu banyak, sampai-sampai sering kita (baca:wanita) tidak punya waktu untuk dirinya sendiri. Boro-boro ke salon buat merawat badan, beres-beres rumah aja sering kita perlu bantuan si bibik. Jadi memang perlu pinter-pinternya wanita untuk mensiasati semua tugas.

Sebagai seorang wanita menikah dan punya anak, tentunya hal yang sangat wajar kalau saya memimpikan selalu ada di dekat anak-anak sepanjang hari. Tentu selama mereka di rumah dan tidak beraktifitas di sekolah atau pergi les. Hanya saja, sering juga saya dihadapkan pada dilema antara berada di rumah atau membantu suami mencari nafkah. Tujuannya, ya menambah penghasilan. Karena hampir tidak mungkin menekan pengeluaran di tengah harga-harga yang tiap hari semakin menggila. Tapi saya akhirnya berfikir, kalau saya bekerja di luar rumah nine-to-five, seringkali hasil yang saya dapat tidak sepadan dengan ‘reward’ yang saya terima. ‘reward’ yang saya maksud adalah, kondisi rumah tangga, termasuk di dalamnya adalah pengurusan anak (belajarnya, makannya, kedekatan psikologisnya dengan orangtua).

Akhirnya saya berkesimpulan bahwa saya harus banyak berada di rumah. Perkara menambah penghasilan, harus dilakukan (sebagian besar) dari rumah. Dan saya juga harus pandai mencari penghasilan lain, tanpa harus kerja. Istilah kerennya passive income…

Passive income ala ibu-ibu rumah tangga menurut saya adalah berinvestasi. Dengan berinvestasi, uang kita akan berkembang terus. Kenapa sih, istilahnya ‘investasi’? karena kalau saya pakai istilah ‘menabung’, maka asumsinya adalah menggunakan instrumen keuangan perbankan atau di bawah bantal (jadi bolehlah kita masukkan ‘bantal’ sebagai sebuah tempat menyimpan uang…hehehe)….sehingga, resiko penurunan nilai uang akan semakin besar. Dan, batallah kita punya passive income…
Saya mencoba mendata beberapa instrumen investasi ala ibu-ibu, plus kelebihan dan kekurangannya:

  1. Tanah. Jelas kelebihannya adalah harganya akan naik terus dalam jangka panjang. Dan selama kita teliti waktu membeli, tentu tidak akan ada resiko bakal diutak-atik oleh pihak lain. Kekurangannya: sulit mendapat dana likuid. Kalau kita perlu uang, belum tentu ada pembeli dalam waktu singkat. Apalagi kalau ada bencana alam model lumpur Lapindo. Waduh, siapa yang mau beli tanah di situ?
  2. Rumah/apartemen. Rumah disini maksudnya adalah rumah kedua selain rumah yang kita tempati. Fungsinya adalah sebagai rumah kontrakan atau kos-kosan. Tentu kalau ada penyewa, setiap bulan/tahun kita akan mendapat uang cash sebagai passive income. Bisa juga kalau nanti kita perlu uang banyak, ya tinggal dijual saja…
    Kekurangannya jelas: kalau penyewanya nakal, kita yang buntung. Ada seorang rekan saya, punya rumah kontrakan. Ternyata penyewanya kabur dengan meninggalkan tunggakan listrik dan telpon yang nilainya jutaan. Bukannya untung malah akhirnya sang pemilik rumah harus nombok…..
    Kalau anda punya rumah lebih dari satu, jangan biarkan kosong dalam waktu yang lama. Bukannya takut jadi rumah hantu, tapi biasanya rumah yang kosong akan lebih cepat rusak dibanding rumah yang berpenghuni. Jadi, bukannya mendatangkan uang,malah menguras uang. Lebih baik disewakan saja… dengan catatan semua resiko yang mungkin muncul sudah kita antisipasi.
  3. Ruko/rukan. Enak juga punya investasi model seperti ini. Kalau kita jeli melihat lokasi, tentu kita akan selalu mendapatkan penyewa. Resikonya, kurang lebih sama dengan invest di rumah/apartemen.
  4. Emas. Nah, ini pasti favorit para ibu. Sambil invest, bisa gaya. Kita semua tahu, tidak pernah ada dalam sejarah, harga emas bisa turun. Bahkan saat harga minyak mentah dunia turunpun, harga emas masih saja naik. Kelebihannya jelas: mempercantik penampilan, meningkatkan ‘status’.
    Kekurangannya: sulit menyimpannya.
    Kok sulit? Iya. Resiko hilangnya sangat besar. Bisa karena kita teledor menyimpan, atau karena dicuri. Amit-amit dirampok! Nah, kalau mau aman, ya sewa safe deposit box di bank. Masalahnya, menyewa SDB pun perlu uang. Apakah uang yang kita pakai untuk menyewa lebih kecil dibanding keuntungan yang kita dapat dari selisih nilai jual emas saat kita perlu uang cash? Kalau tidak, maka sekali lagi, bukan passive income, tapi nombok yang kita lakukan…
  5. Surat berharga. Bisa berupa surat hutang, obligasi, reksadana…..yang ini memang tidak semua ibu tahu. Hanya yang well informed saja yang mengerti. Kelebihannya jelas: bisa menjadi sumber uang kita saat harga penjualannya lebih tinggi daripada harga saat kita beli. Kekurangannya, tentu saat kita salah menentukan antara jangka waktu uang akan digunakan dengan model investasinya, bisa-bisa celaka limabelas! Misalkan, ambil investasi di reksadana saham, agar keuntungannya bisa dipakai bulan depan. Lha, bulan depan, harga saham turun drastis, ya sudah tamat! Sekedar info, reksadana saham hanya cocok untuk jangka menengah-panjang.
    Kekurangannya yang lain adalah kita bisa saja tertipu oleh badan yang menawarkan surat-surat berharga ini. Di Indonesia, banyak kasus penipuan investasi. Dan dana yang berhasil dihimpun oleh para penipu ini bisa mencapai trilyunan untuk satu kasus. Gila? Memang. Ini adalah hasil kombinasi dari kecerdikan penipu, keserakahan dan kebodohan manusia, plus kelonggaran pihak otoritas keuangan dalam pengawasan.

Akhirnya, memang jadi ibu harus pandai memilih bentuk investasi, supaya gak dipelototin suami….

Related posts:

  1. Yuk, Atur Ulang Cash Flow Rumah Tangga
  2. Mengatur Pengeluaran Rumah Tangga, antara Needs vs Wants
  3. Hemat Biaya Belanja Rumah Tangga
  4. Hemat Pengeluaran Rutin Rumah Tangga
  5. Emas, Investasi yang Tak Lekang oleh Waktu
Comments
Leave a Response
XHTML: You can use these tags: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>